Rabu, 19 Agustus 2015

PERTAHANKAN IMAN DAN ISLAM SAMPAI MATI



      Marilah kita bersyukur, sam-pai saat ini kita masih mendapat hidayah berupa keislaman dan keimanan. Kita minimal dalam sehari mengucapkan, sebanyak tujuh belas kali, itu artinya kita berdoa kepada Alloh agar ditetapkan dalam kondisi muslim sampai ajal merenggut nyawa.
       Nikmat yang  paling besar yang tidak ada bandinganya adalah Iman dan Islam, namun kadang kala kita itu lebih mengedepankan syukur atas datangnya rizki atau anugerah-anugerah lain yang lebih kasat mata. Padahal sebenarnya tidak ada nikmat yang lebih besar dari pada nikmat Islam. Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata: “Nikmat yang paripurna adalah mati dalam kondisi Iman dan Islam.” Para ulama dan wali juga selalu berdoa agar mereka meninggal dalam menetapi keadaan Islam. “Wahai Tuhan yang Maha Agung dan Mulya, matikanlah kami dalam Agama Islam.”

      Bahkan ada sebagian orang yang selama hidupnya selalu berdoa, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari dunia dalam kondisi Iman dan Islam.”
   Imam Al-Ghazaly dalam bukunya yang berjudul Al Ihya Ulumuddin, tentang Ajaibul Qulub menga-takan, bahwa iman itu terbagi atas 3 (tiga) jenis, yaitu:
1.      Iman Awami, yaitu iman secara awam (taqlid).
2.      Iman Mutakallimin, yaitu iman dengan dalil-dalil (argumentatif). Imanjenis ini lebih dekat kepada Iman Awami.
3.      Iman Arifin, yaitu iman dengan yakin. Menyaksikan secara jelas danlangsung, hal-hal yang di-imani.
      Iman secara Awami dan Mutakallimin, adalah berupa definisi rukun iman yang diambil dari penjelasan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW, yaitu :
1.       Iman kepada Allah
2.       Iman kepada Malaikat Allah
3.       Iman kepada Kitab Allah
4.       Iman kepada Rasulullah
5.       Iman kepada Hari Pemba-lasan
6.       Iman kepada taqdir baik dan taqdir buruk
      Iman secara arifin hakikatnya adalah cahaya.
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepa-da cahaya (iman). Dan orang orang yang kafir, pelindung-pelindung nya ialah setan, yang menge-luarkan mereka dari cahaya kepada kegela-pan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. 2 Al Baqarah 257)
    Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang bende-rang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Q.S. 5 Al Maa-idah 16)
  Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa sese-orang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. 64 At Taghaabun 11)
      Iman Arifin inilah hakikat keimanan yang hak, yang dengannya seorang hamba dapat menerima petunjuk yang datang dari Allah, sehingga terpimpinlah ia ke jalan yang lurus.
     Seseorang walaupun bergeli-mang dosa tapi kalau matinya menetapi Iman dan Islam itu berarti harapanya masih ada. Meski ia harus terlebih dahulu merasakan api neraka dalam masa ratusan tahun sekalipun, ia pada akhirnya akan masuk surga dan langgeng di dalamnya.

     Rasulullah bersabda: “Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah 
yang mengucapkan Laailaa-haillallahu dengan ikhlas dari dalam hatinya.” (H.R. Bukhari)
 
      Hidup di akhirat itu tidak terbatas. Kita akan hidup abadi, tapi keabadian kita di akhirat berbeda dengan kelanggegan Alloh swt. Kita langgeng karena dilanggengkan oleh-Nya.
     Sedangkan Alloh swt. itu abadi dengan sendirinya. Sebagaimana halnya wujud kita yang memang diwujudkan). Sedangkan Allah swt itu wujud dengan sendirinya (wujud dzati). Marilah kita mensyukuri nikmat Iman dan Islam ini. Syukur itu ada kalanya dengan lisan (syukur billisan), hati (bil jinan) dan anggota tubuh (bil arkan).
Rasul bersabda: “Allah berfirman: Jika hambaKu mengingatKu di dalam dirinya,maka Akupun
akan mengingatnya di dalam diriKu.” (H.R.Bukhori dan Muslim)
 
      Syukur dengan lisan berarti lisannya mengucapkan al handu-lillah atas segala nikmat Allah swt. Adapun syukur dengan hati, berarti hatinya merasakan syukur. Sedangkan syukur dengan anggo-ta, artinya syukur yang dibuktikan dalam pelaksanaan sikap-sikap yang nyata, memperjuangkan Islam dengan sesungguhnya. Kalau kita mendirikan sebuah organisasi atau jam’iyah misalnya, hendaknya organisasi itu difung-sikan terhadap perjuangan Islam.

    Apapun status sosial seorang muslim, dia wajib memper-juangkan agama. Sebagai seorang petani sekalipun, ia harus senantiasa berupaya menga-plikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya sehari-hari. jika hal itu sudah dilakukun, maka dia patut disebut sebagai orang yang bertaqwa. 

     Orang yang bertaqwa, jaminan-nya adalah mendapatkan kemuda-han, mendapatkan jalan keluar dari segala problematika dan memperoleh rizqi yang tidak terkirakan. Marilah kita selalu berusaha menjadi orang yang husnul khotimah dan berupaya menghindarkan diri dari su’ul khotimah. Hal hal yang mendo-rong pada su’ul khotimah kita jauhi, dan sebaliknya yang menjadikan khusnul khotimah kita upayakan dengan sekuat tenaga. Dalam hal ini ada sebuah peristiwa sejarah yang patut dijadikan i’tibar atau perlambang bagi kaum muslimin. Lihatlah yang menimpa Bal’am, seorang waliyulloh, ia dapat melihat ‘arsy dengan mudahnya, cukup dengan mendongak ke atas, ia dapat melihatnya. Ia hidup di masa Bani Israil, kaumnya nabi musa. Tak kurang dari empat ratus muridnya selalu mencatat semua nasehat-nasehatnya, namun hidupnya berakhir tragis, ia mati tidak menetapi Iman dan Islam. Penyebanya ialah bermula dari orang-orang Bani Israil yang memberi iming-iming materi yang melimpah kepada Bal’am agar ia mau mendo’akan jelek kepada Nabi Musa. Karena Bal’am tidak goyah pendirianya, mereka ganti berupaya mengoda hati istrinya dengan imbalan materi yang melimpah pula. Akhirnya hati Bal’am tergoyahkan juga oleh rayuan Istri tercintanya.
       Disamping itu menurut suatu riwayat Bal’am semasa hidupnya dalam memeluk Agama Islam, sama sekali tidak pernah merasa bersyukur kepada Alloh swt. Di sinilah pentingnya syukur itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar